RESENSI NOVEL KAFE BIDADARI
IDENTITAS NOVEL
JUDUL : KAFE BIDADARI
PENULIS :
FINA AF’IDATUSSOFA
PENERBIT : EMBOEN IMAJI
TANGGAL PENERBITAN : NOVEMBER
2013
TEBAL BUKU : 116
HALAMAN
SINOPSIS
salah satu cita-cita
Wintang untuk tinggal di pesantren yang ditulis di dreambook miliknya sudah
tercapai. Pertolongn bu Nyai kepada Wintang yang telah kehilangan orang-orang
terdekatnya pada usia dibawah 17 tahun membuatnya tinggal di pesantren Al-Amin,
ia bersyukur keluarga pesantren telah membantu menyelamatkan hidupnya dari
kesedihan.
Kebaikan
jiwa Zahra (menantu bu Nyai) yang mengalir didirinya. Wintang memiliki suara
yang merdu sehingga Zahra mempunyai ide untuk membuat kafe bidadari, Zahra ingin Wintang menyalurkan bakatnya dalam
mendendangkan suaranya . Wintang menyanyi di Kafe Bidadari satu bulan sekali. Menurut
Zahra hiburan di Kafe Bidadari selama satu bulan sekali berguna untuk
menyegarkan pikiran masyarakat shobanlah dan para santriwati dari rutinitas sehari-hari.
PERTIMBANGAN
KELEBIHAN
Novel ini
mengingatkan pembaca akan terus bermimpi dengan melangkah mencapai mimpi
tersebut. Novel ini mengingatkan bahwa kelembutan dan kegigihan adalah jalan cahaya untuk sebuah perjuangan
yang keras. Pembaca jga mendapati setting pesantren yang coba dibangun dalam
novel ini. Dunia pesantren yang berbeda dari pesantren biasanya. Kalimatnya mudah
dipahami bagi pembaca.
KEKURANGAN
Terdapat beberapa
kata yang cara penulisannya salah
KESIMPULAN
Terlalu
larut dalam kesedihan akibat persoalan hidup tidaklah baik. Seperti halnya Wintang banyak sekali musibah yang dating
kepada dirinya tetapi dia tidak ingin kesedihannya merusak masa depannya.
Hingga Wintang menyadari bahwa dia harus terus berjalan dan menggapai
cita-citanya yang telah tertulis di DreamBook miliknya. Baginya terus bermimpi
dan melangkah dengan pasti itu lebih utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar